Rabu, 02 September 2026

KASIH DI ATAS SEGALA ATURAN

 Renungan Harian Katolik

Sabtu, 5 September 2026

Pekan Biasa XXII | Peringatan Wajib Santa Teresa dari Kalkuta

Bacaan Injil: Lukas 6:1-5


KASIH DI ATAS SEGALA ATURAN


Sorang Tumanggor, S.Ag

Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Dairi

________________________________________




Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Hari ini Gereja mempersembahkan kepada kita sebuah peristiwa yang tampak sederhana namun sarat makna. Para murid Yesus memetik bulir gandum di hari Sabat. Tindakan kecil ini—yang oleh para Farisi dianggap sebagai pelanggaran hukum—menjadi panggung bagi sebuah pengajaran agung tentang hakikat iman sejati.

Sabat yang Kehilangan Jiwanya

Dalam tradisi Yahudi, hari Sabat adalah hari kudus, hari perhentian yang ditetapkan Allah untuk mengingat karya penciptaan dan pembebasan umat-Nya. Namun seiring waktu, makna luhur ini semakin tenggelam di bawah tumpukan aturan tambahan yang diciptakan manusia. Hari yang seharusnya menjadi anugerah berubah menjadi beban; tanda kasih Allah berubah menjadi alat penghakiman.

Para Farisi yang mengkritik para murid adalah orang-orang saleh yang sangat serius menjalankan hukum Taurat. Namun kesalehan mereka menjadi buta. Mereka melihat "pelanggaran" tetapi tidak melihat kebutuhan saudara-saudara yang sedang lapar. Mereka sibuk menjaga aturan tetapi lupa bahwa di hadapan mereka berdiri Sang Pembuat Aturan itu sendiri.

Saudara-saudari, bukankah kita pun terkadang mengalami godaan yang sama? Kita bisa sangat sibuk menjalankan kewajiban keagamaan—datang ke Misa, berdoa, berpuasa—tetapi kurang peka terhadap kebutuhan orang-orang di sekitar kita. Kita bisa terjebak pada formalitas lahiriah sehingga hati kita menjadi kaku, sama seperti hati para Farisi.

Yesus: Tuhan atas Hari Sabat

Yesus menjawab kritik para Farisi dengan mengingatkan mereka akan kisah Daud. Ketika Daud dan para pengikutnya dalam keadaan lapar, mereka memakan roti sajian yang secara hukum hanya boleh dimakan oleh para imam. Yesus tidak mengatakan bahwa perbuatan Daud itu benar secara hukum, tetapi Ia menunjukkan bahwa kebutuhan manusiawi dan belas kasih tidak bisa diabaikan demi kepatuhan buta pada aturan.

Kemudian Yesus menyatakan: "Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat." Dengan pernyataan ini, Yesus menempatkan diri-Nya sebagai pusat dan pemenuhan hukum Taurat. Sabat—dan segala aturan keagamaan—bukanlah tujuan akhir; sabat adalah sarana untuk membawa manusia pada perjumpaan dengan Allah. Dan Yesus adalah perjumpaan itu sendiri.

Hukum untuk Manusia, Bukan Manusia untuk Hukum

Pesan Yesus hari ini sangat jelas: hukum ada untuk manusia, bukan manusia untuk hukum. Iman sejati tidak berhenti pada pelaksanaan aturan, tetapi mengalir dalam kasih yang nyata. Tanpa kasih, hukum menjadi belenggu yang membebani; dengan kasih, hukum menjadi jalan menuju kebebasan sejati.

Paus Fransiskus pernah mengingatkan kita bahwa kata "munafik" sering Yesus tujukan kepada mereka yang bersikap kaku dalam menjalankan hukum, yang tidak memiliki kebebasan sebagai anak Allah. Mereka merasa hukum harus dilaksanakan begitu saja dan menjadi budak hukum. Padahal, hukum tidak dibuat untuk memperbudak kita, melainkan untuk membebaskan kita dan menjadikan kita anak-anak Allah.

Teladan Santa Teresa dari Kalkuta

Hari ini Gereja memperingati Santa Teresa dari Kalkuta, Bunda Teresa. Beliau adalah saksi hidup bahwa iman yang sejati tidak pernah berhenti pada formalitas. Sepanjang hidupnya, Bunda Teresa melayani mereka yang paling miskin, sakit, dan terabaikan. Baginya, setiap orang yang menderita adalah "Yesus dalam rupa yang menyedihkan." Pelayanan kasihnya adalah bentuk konkret dari ibadah sejati kepada Tuhan.

Saudara-saudari, Bunda Teresa mengajarkan kepada kita bahwa iman harus menghasilkan buah dalam tindakan nyata. Ia tidak pernah bertanya apakah hari itu Sabat atau tidak ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan. Baginya, kasih selalu melampaui aturan.

Sabat dalam Kehidupan Kita

Sebagai umat Katolik, hari Sabat kita adalah hari Minggu—hari kebangkitan Tuhan. Namun semangat Sabat tetap hidup: hari Minggu adalah hari untuk beristirahat, memulihkan relasi dengan Allah, dengan sesama, dan dengan diri sendiri.

Di zaman serba digital ini, kita sering terjebak dalam ritme kerja tanpa henti. Notifikasi ponsel, tuntutan produktivitas, dan budaya konsumsi membuat kita kehilangan waktu hening dan waktu untuk peduli pada sesama. Maka pesan Injil hari ini sangat relevan: kita diajak menjadikan hari Tuhan bukan sekadar hari libur, tetapi hari doa, hari keluarga, dan hari kasih.

Refleksi untuk Kita

Mari kita bertanya pada diri sendiri:

1. Apakah praktik iman saya hanya sebatas pelaksanaan aturan, ataukah menghasilkan kasih yang nyata bagi sesama?

2. Apakah saya memberi ruang dalam hidup untuk "Sabat rohani"—waktu khusus untuk Tuhan dan untuk orang-orang yang saya kasihi?

3. Apakah saya melihat kebutuhan orang lain di sekitar saya, atau saya terlalu sibuk dengan kesalehan pribadi?


"Kasih tidak pernah berakhir. Iman tetap ada, harapan tetap ada, tetapi yang paling besar dari semuanya adalah kasih." (1 Korintus 13:8, 13)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar